
Ada yang bilang sahabat itu adalah teman yang benar-benar dekat sampai tahu hal-hal kecil tentang kita.
Ada juga yang bilang sahabat itu kalau kemana-mana selalu bareng.

Terkadang kita dengan enteng menyebut, dia itu sahabat saya.

Tapi ketika ditanya ini itu tentang sahabat kita yang berhubungan dengan keluarga, pendidikan dan lain-lain, kita bingung jawabnya. Coba kalian berfikir, apa saya ini sahabat yang baik? Apa saya pantas disebut sahabat?
W menganggap sahabat adalah orang yang bisa melihat kita dari hati ke hati, bukan karena tampang, materi, latar belakang,

pendidikan dan lain-lain. Karena itu w memang jarang menanyakan hal-hal yang berbau privacy ke sahabat-sahabat w. W lebih sebagai pemberi masukan dan penerima keluh kesah sahabat-sahabat w. Bukannya w orang yang nggak peduli dan nggak mau tau, tapi menurut w persahabatan bukan dinilai dari sedalam apa kita tau tetek bengek orang tersebut, melainkan sedalam apa kita memahami orang tersebut.
Sahabat itu cermin bagi diri kita, rujukan tempat kita mengekspresikan diri. Sahabat itu seperti tubuh, bila tubuh kita salah satu sakit, maka yang lain akan merasa sakit. Misalnya kalau kaki kita terantuk batu, pasti dengan mulut refleks akan bilang “aduh”,

tangan langsung mengusap dan mengobatinya, tanpa diminta dan tanpa disuruh, begitu juga seorang sahabat dia akan punya kesadaran diri kalau sahabatnya sedang dalam kesulitan, dan itu dilakukan atas dasar keikhlasan bukan paksaan apalagi pamrih, ya seperti tubuh kita yang sakit tadi.
Di sebuah persahabatan ada sebuah perselisihan yang akan membuat kita menjadi marah atau benci tapi di balik itu semua kalau kita bisa menyatu kembali maka akan terjalin persahabatan yang akan menjadi lebih kuat.

Seorang teman tetap memberi ruang gerak pribadi, privacy sebagai seorang manusia. Dan kita akan berasa deket dengan dia walaupun ga ketemu dan ga kontak dalam waktu yang lama. Karena pertemanan itu pada dasarnya dari ikatan hati.

Ga bakal ilang walaupun dimensi jarak memisahakan kita. Kita harus mengkui bagaimanapun juga kita ga bisa menghilangkan dia dari hati kita. Dan tanpa teman, kita ga akan seperti sekarang ini.
Garis Besarnya…:
“Manusia selalu hidup berkelompok. Tiada manusia yang dapat hidup dalam kesendirian. Apabila ada, maka manusia tersebut benar-benar mahluk yang malang dan hidupnya tentu tidak berwarna.”